30 August 2013

Pee Mak Phra Khanong (2013)


Sebenarnya saya tak akrab dengan film Thailand khususnya yang bergenre horor. Bukannya tidak bagus, tetapi kekerapan menonton yang berfrekuensi jarang, membuat referensi mengenai film Thailand tidak banyak. Mungkin hanya Ong Bak jilid pertama saja yang saya tonton utuh, itupun di TV yang diselang-seling iklan. Secara umum, horor Thailand mendapat kritik yang bagus. Selain seram, dari sisi penceritaannya pun kuat.

Mak (Mario Maurer) harus meninggalkan istrinya, Nak (Davika Hoorne), yang sedang mengandung demi tugas negara, berperang. Di medan perang, Mak bertemu keempat temannya, Ter (Nattapong Chartpong), Puak (Pongsatorn Jongwilak), Shin (Wiwat Kongrasri), dan Aey (Kantapat Permpoonpatcharasuk). Mak mendapat luka cukup serius saat berperang. Tapi dia tak ingin mati demi bisa melihat isri yang sudah terlalu lama dirindukannya. Bersama keempat temannya, Mak pulang ke desanya, Phra Khanong.

Namun desa di tepi sungai itu terasa sepi dan aneh. Namun keanehan itu sirna saat Mak mendapati istrinya berada di rumah. Mereka pun melepas rindu. Dari informasi para penduduk kampung, keempat teman Mak percaya jika Nak adalah hantu. Dan sepinya kampung di dekat Mak tinggal tak lain karena teror yang ditimbulkan Nak. Nak sendiri telah meninggal saat melahirkan anaknya. Mak tak percaya saat diberitahu soal itu. Mak tetap tinggal di rumah bersama Nak. Terjadilah pertentangan antara Mak dan teman-temannya dalam mempersoalkan status istrinya tersebut.

Cute Davika
Awalnya saya pikir Pee Mak Phra Khanong adalah horor betulan. Ternyata ini adalah komedi horor. Ceritanya sendiri merupakan sebuah urban legend. Versi seriusnya pernah difilmkan berkali-kali dan terakhir kali muncul di tahun 1999 dengan judul Nang Nak. Nak adalah seorang hantu wanita yang meninggal saat melahirkan anaknya. Nak biasanya memperlihatkan diri sambil menggendong anak. Di Indonesia Nak mungkin mirip seperti sundel bolong.

Meski hanya sebatas komedi horor, namun Pee Mak merupakan salah satu film terlaris di negeri Gajah Putih. Apa rahasianya, selain benar-benar kocak, Banjong Pisanthanakun tak main-main dengan segala detil filmnya. Lihat bagaimana ia membuat setting yang begitu sempurna pada sebuah kampung pinggir sungai di abad 19. Lihat pula gigi hitam semua pemain. Pasti banyak yang bertanya, kenapa gigi mereka kok bisa menghitam. Di abad itu, nyirih merupakan hal yang wajib dilakukan untuk merawat gigi (mungkin semacam sikat gigi sekarang). Makanya tak heran bila orang pada zaman itu mempunyai gigi hitam akibat sirih.

Banjong sepertinya berjudi dengan pilihan genre yang nekat dibuatnya ini karena Banjong sebelumnya terkenal dengan keahliannya membuat horor serius seperti Shutter, Alone, 4bia, dan Phobia 2. Namun pilihan Banjong tak salah. Dengan modal cerita yang sudah dikenal luas, Banjong membuat urban legend Nak menjadi beda. Bahkan di sini kita dibuat bertanya-tanya apakah Nak bakal 'dijadikan' hantu atau tidak. Namun Banjong masih setia dengan pakem cerita aslinya meski ada tambahan di sana-sini, dan itu wajar karena genrenya yang komedi.

Empat orang pandir
Itu pula yang menjadikan Pee Mak sangat berbeda dengan komedi horor Indonesia. Sudahlah, tak perlu diperbandingkan lebih jauh. Yang pasti, kalau di Indonesia komedi ya lebih baik komedi, dan horor ya lebih baik horor. Jangan dicampur kalau tak ingin kenikmatan visual dan audio nya jadi hancur. Contohnya sudah banyak. 

Pee Mak Phra Khanong, sebuah horor komedi cerdas dengan sentuhan setting artistik yang menawan. Kelam tetapi jernih. Potongan rambut 'keren' juga bertebaran di mana-mana. Di dalamnya kita bisa menemukan David Blaine, Spiderman, Ang Lee, The Last Samurai, 300. Kita juga bisa temukan bianglala dan komedi putar meski pada zaman itu belum ada listrik :).  Jangan dianggap serius, ini hanyalah komedi.

1 comment:

  1. Lucu banget film pee mak, Banjong salah satu sutradara muda Thailand terbaik

    ReplyDelete