15 October 2018

Venom (2018)

The world has enough Superheroes

Venom adalah salah satu villain Spider-Man yang paling berkarakter dan tentu saja salah satu yang paling populer. Penampakan live action-nya terwujud saat Sam Raimi memunculkannya di Spider-Man 3 (2007). Kemunculan yang paling dinantikan karena paling ditunggu. Sayang, banyak yang mengkritik pedas sekuel ke-3 ini karena mencampur adukkan begitu banyak villain di dalamnya.

Butuh waktu 11 tahun bagi Sony untuk me-refresh kembali Venom. Bekerjasama dengan Marvel, Venom pun seakan pulang kampung untuk menapaki spin off yang telah disiapkan untuknya. Tom Hardy dipilih untuk mengawali kisah simbiote ini.


Sebuah pesawat ruang angkasa kembali dalam keadaan terbakar saat bergesekan dengan atmosfer bumi. Pesawat itu membawa 'sesuatu' dari planet lain. Tiga tabung yang memerangkap 'sesuatu' itu selamat namun satu tabung lainnya hilang. Life foundation pimpinan Carlton Drake (Riz Ahmed) meneliti apa yang datang dari planet lain itu.

Eddi Brock adalah seorang wartawan yang punya acaranya sendiri. Kehidupannya yang sempurna ditambah dengan limpahan kasih sayang kekasih cantiknya, Anne Weying (Michelle Williams). Namun kesempurnaan itu sirna ketika ia membuat Drake marah saat mewawancarainya. Saat Eddi dalam keadaan rapuh, Venom pun datang.

Tom and Michelle

Apa sih yang dimau Sony dengan 'meminjamkan' karakter yang menjadi hak miliknya untuk digarap Marvel? Sebuah universe milik Sony yang dia ada di dalamnya tentunya. Sebuah Sony’s Universe of Marvel Characters. Spider-Man:Homecoming telah menjadi pembuka, Venom berikutnya. Ke depan ada lagi sejumlah karakter yang bakal berdiri sendiri seperti Morbius dan Nightwatch. Mereka juga bukan tidak mungkin akan masuk ke Marvel Cinematic Universe (MCU) sebagai pelengkap.

Balik ke Venom. Ruben Fleischer sepertinya kurang menghormati karakter Venom yang garang dan mengintimidasi. Fleischer membuat Venom tampak murahan dengan lawakan yang sama sekali tak initimidatif. Seakan receh, Venom di sini dieksploitasi menjadi badut dengan mulut penuh gerigi dan lidah yang menjulur keluar.

Mungkin kurang fair jika menyalahkan Fleischer 100% dalam hal ini. Ingat, ini film Marvel (baca Disney) juga. Yang dilakukan Disney di semua filmnya kurang lebih sama, enteng, renyah, pop corn, dan tak lupa lawakan tentu saja. Sungguh sayang sebuah karakter yang 'berwibawa' harus kehilangan kharismanya demi sebuah tuntutan.

Tapi bukan berarti keseluruhan film ini tak bernilai. Masih ada sisi-sisi menarik di dalamnya yang membuat sajian ini masih sedikit bertaring. Tom Hardy adalah salah satunya. Dia cocok kok jadi Venom, dan tak ada keraguan untuknya. Tapi dia masih gagu untuk melawak. Lawakan sebuah simbiote bukan seperti itu, sama layaknya lawakan untuk Tom Hardy bukan seperti itu juga.

Simbiote

Jika ada yang berpikir awal atau justru keseluruhan film berjalan lambat, saya pikir itu wajar. Ini adalah film pertama Venom yang memang butuh explore. Bahkan bila Venom dijadikan drama pun, saya masih bisa menerimanya sebagai pintu masuk sekuelnya yang harus lebih dahsyat.

For the villain, kok saya mikirnya di bagian ini misscast ya. Riz Ahmed terlihat tak mempunyai kharisma sebagai bad guy yang seharusnya membuat segala suasana menjadi tak nyaman. Bahkan saat dia berubah pun, tak ada yang benar-benar bersimpati padanya.

Well, Venom adalah sajian yang abu-abu. Ia tak bagus, namun ia juga tak buruk. Menapaki karakter dengan meninggalkan jejak menuju sekuel adalah suatu keharusan. Namun jejak Venom terasa tertatih. 

No comments:

Post a Comment