18 August 2013

The Act of Killing (2012)

A story of killers who win, and the society they build
Pada masa orde baru, komunis dengan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi momok yang harus ditakuti. Pemerintahan Soeharto terus memaksa rakyatnya agar phobia terhadap hal-hal berbau komunis. Usaha itu awalnya dilakukan dengan membentuk koramil, kodim, korem hingga RT dan RW, dengan harapan mempersempit ruang gerak simpatisannya dan segera bisa terdeteksi jika ada yang mengarah ke situ.

Setelah dirasa sudah berjalan, mbah Harto mulai memberangus buku-buku berbau komunis dan mulai melakukan propaganda jika komunis itu racun. Salah satu caranya adalah memaksa rakyatnya menonton film propagandanya yakni 'Pengkhianatan G30S/PKI'. Film yang dibesut Arifin C Noer itu merupakan tontonan wajib setiap tanggal 30 September. Meski sudah diputar di satu-satunya televisi saat itu, TVRI, namun Smiling General masih memaksa para pelajar menontonnya di bioskop.

Saya masih ingat pernah 'dipaksa' dan dibawa ke sebuah gedung bioskop bersama teman satu kelas hanya untuk menonton film berdurasi 220 menit itu (WOW, 3 jam 40 menit). Bukannya menghayati, yang terjadi malahan tidak menikmati. Bayangkan, gedung bioskop itu adalah gedung bioskop ecek-ecek, murahan (kalau buku boleh disebut stensilan), dan memang stensilan karena biasanya digunakan memutar film birahi murahan saja. Sudah panas, basah bekas bocor semalam, dan bau pesing. Saat dewasa, saya berpikir kalau dana untuk nonton film itu pasti sudah dikorupsi karena masih ada gedung bioskop lain yang jauh lebih nyaman. Ah, tapi sudahlah, korupsi zaman segitu emang udah biasa.

This is how to kill without more blood
Selepas reformasi, film versi pemerintah orde baru itu sudah tak bergaung karena tak pernah diputar lagi. Dengan kebebasan yang ada, justru yang terjadi adalah tersebarnya informasi tentang cerita lain dibalik G 30S/PKI. Informasi tersebut kebanyakan dituangkan melalui buku yang banyak beredar. Salah satu cerita lain itu adalah fakta jika Soeharto telah membantai jutaan orang yang diyakininya merupakan simpatisan PKI. Cerita itu sudah banyak tertuang di buku, namun belum di layar lebar. Joshua Oppenheimer, seorang sutradara asal Amerika berusaha mengangkatnya ke layar lebar dengan tema pengakuan salah seorang pelaku pembantaian tersebut.

Joshua membuatnya secara dokumenter. Untuk filmnya yang berjudul 'The Act of Killing' ini, Joshua menyentralkan perannya kepada Anwar Congo, seorang yang dikenal sebagai preman di Medan. Pada masa mudanya, Anwar merupakan salah satu seorang pembantai simpatisan PKI paling terkenal. Sudah ratusan, bahkan ada yang menyebut ribuan, simpatisan PKI yang dibunuhnya. Anwar bahkan tak sungkan memperagakan bagaimana cara dia membunuh dengan efektif tanpa membuat korbannya berdarah-darah.

Cara itu didapatnya dari menonton film barat di bioskop yang dijaganya. Anwar dulunya memang seorang pencatut karcis di sebuah bioskop yang menayangkan film Hollywood. Dengan naiknya PKI ke tampuk politik, bioskop tempat Anwar bekerja pun diberangus dengan alasan film barat akan membawa pengaruh yang buruk. Dari situlah dendam Anwar kepada PKI berkecamuk. Saat pamor PKI meredup akibat blunder coup d'etat nya, Anwar mulai bertindak. Dengan restu militer yang memperbolehkan warga sipil mengganyang antek-antek PKI, Anwar dan kawan-kawannya melakukan pembantaian besar-besaran. Tiap hari Anwar digambarkan membunuh simpatisan PKI dengan berbagai cara.

Bad make up
Anwar lantas diajak Joshua membuat film bertema pembantaian tersebut. Namun di sini Anwar bukan berperan sebagai pembantai namun sebagai korban. Joshua juga melibatkan teman-teman Anwar seperti Adi Zulkadry, Ibrahim Sinik, Herman Koto, dan lain-lain. Dengan perannya itu, apakah Anwar bisa berempati?

Koreografi khususnya yang ditampilkan Joshua di alam luar cukup memanjakan mata. Namun adegan-adegan yang tak penting dan tak perlu juga cukup mengganggu. Oh ya, ada 2 versi film ini. Yang pertama yang utuh yang berdurasi 2 jam 40 menit. Dan yang kedua yang sudah diedit yang berdurasi hampir 2 jam. Saya melihat yang versi utuh sehingga banyak melihat scene yang mengganggu. Joshua pada klimaknya membuat film ini dengan melihat pada hati, bukan pada pandangan fisik semata.

Jika mau jujur, pembantaian simpatisan PKI saat itu adalah tindakan melanggar hukum yang dibenarkan rakyat (sama seperti halnya Petrus). Hukum adalah suatu kesepakatan. Jika pemerintah dan rakyat sudah sepakat maka tak ada yang mengusiknya, bahkan hingga sekarang. Yang ada hanyalah hujatan dan kutukan yang dilakukan masyarakat masa kini yang tak merasakan langsung zaman itu.

Masyarakat termasuk Anwar Congo beramai-ramai membasmi dan membantai simpatisan PKI karena ulah PKI sendiri. PKI dengan tega menghalalkan segala cara untuk mendapatkan legitimasi, termasuk membunuh warga tak berdosa tanpa sebab yang jelas. Apa yang ditakutkan masyarakat dengan PKI dari dulu hingga sekarang menurut saya bukanlah karena paham PKI yang tak ber Tuhan, tetapi tindakan brutal PKI yang berani menghabisi nyawa rival-rivalnya. Pemerintah yang membaca kegeraman masyarakat kepada PKI akhirnya melimpahkan sebagian tugasnya ke masyarakat. Suatu cara efektif tanpa mengotori tangan.

Artistic
Atas film nya yang dalam Bahasa Indonesia dilabeli 'Jagal' ini, Joshua mendapat penghargaan di mana-mana, tapi tidak di Indonesia. Bukannya meremehkan Joshua, tetapi ibarat membuat sebuah laporan, apa yang disajikan Joshua jauh dari kata dalam, detil, dan menyeluruh. Anwar Congo tidak bisa mewakili seorang penjagal yang menjagal bukan di kota tempat PKI berbasis. Ibarat reportase seorang wartawan, The Act of Killing masih harus dilengkapi lagi agar bisa tayang.

Jika ingin mendapat kepercayaan, Joshua harusnya menggarap film nya ini di Jawa dan mewawancarai orang-orang yang terlibat lebih dekat dengan PKI, khususnya mantan tentara atau orang-orang pesantren. Peristiwa pembantaian PKI di Jawa tentu saja jauh lebih massive jika dibandingkan di Medan. Rakyat di Jawa dari kota besar hingga desa terpencil terlibat dalam pembunuhan simpatisan PKI. Tetapi Joshua seakan tak acuh dengan fakta itu. Dia memang menyajikan The Act of Killing untuk konsumsi orang barat yang kurang tahu secara menyeluruh peristiwa yang dianggap berawal dari tragedi nasional itu.

Dan wajar saja jika hanya masyarakat barat yang menghargai Joshua. Termasuk Aung San Suu Kyi yang hanya diam saja saat umat muslim Rohingya dibantai oleh masyarakat Myanmar dan para biksu. Oh ya, mungkin San Suu Kyi ingin Joshua membuat dokumenter tentang pembantaian muslim Rohingya tersebut. Who knows.

3 comments:

  1. wiiihhhb film apik iki mas. oleh ngopi? :D

    ReplyDelete
  2. Koen jare ape nang omahku ape ngopi film ini kapanane. Yo wis tak enteni nang omah

    ReplyDelete
  3. Ada tiga cara menonton Jagal/The Act of Killing. Cara pertama, Anda adakan nobar sama teman-teman, sampaikan rencana nobar-nya berserta Nama/Alamat Pos/Nomor Telepon ke email anonymous@final-cut.dk atau lewat inbox www.facebook.com/filmjagal. Anda bisa dapatkan DVD-nya gratis dari kami.

    Cara kedua, jika mengadakan nobar terlalu merepotkan, silakan pesan DVDnya dari Komunitas Film: http://komunitasfilm.org/2013/07/dvd-film-the-act-of-killing-jagal/ Ongkos ganti duplikasi Rp30.000 + ongkos kirim.

    Atau Anda bisa tunggu 30 September 2013, akan disediakan link unduhan/donlot gratis di www.actofkilling.com dan diumumkan juga di www.facebook.com/filmjagal

    ReplyDelete