12 August 2016

3 Srikandi



Olah raga panahan memang tidak populer. Ibarat langit dan bumi, olah raga bermaterikan utama busur dan anak panah itu terpukul telak jika dibandingkan dengan sepak bola, olah raga paling populer di Indonesia. Namun siapa sangka jika panahan adalah olah raga yang pertama kali membuat nama Indonesia menjadi harum di mata dunia. Dibanding sepak bola yang lebih banyak kisruhnya, panahan justru menyumbang medali pertama kali bagi Indonesia di Olimpiade. Itu terjadi pada Olimpiade 1988 yang dihelat di Seoul, Korea Selatan.

Donald Pandiangan (Reza Rahadian) ngamuk begitu ia tahu jika Indonesia memboikot Olimpiade Moskow 1980. Pemboikotan dilakukan karena Uni Soviet secara tiba-tiba menginvasi Afghanistan. Pandi yang dijuluki Robin Hood nya Indonesia putus harapan dan menghilang. Tujuh tahun kemudian, Indonesia berencana mengirimkan atlet panahannya ke Olimpiade Seoul 1988. Udi Harsono (Doni Damara) sebagai kepala organisasi panahan Indonesia ingin Pandi menjadi pelatih.

08 August 2016

Suicide Squad (2016)

In Squad We Trust

DC terus melajukan extended universe nya mencoba mengimbangi ketertinggalannya dari Marvel. Berawal dari satu karakter, kemudian dua karakter, kali ini DC langsung patas dengan menampilkan banyak karakter. Asyiknya, yang tampil kali ini bukanlah karakter pembasmi kejahatan, namun kebalikannya. Tanpa basa basi, DC langsung menyuguhkan mereka si pembuat kejahatan a.k.a the villain yang diassemble ke dalam Suicide Squad. Apakah Suicide Squad akan dicerca habis-habisan seperti dua pahlawan super itu? Ataukah sekumpulan penjahat ini justru menjadi super hero yang akan menyelamatkan DC?

Mengambil setting setelah kematian Superman, pemerintah berusaha mencari potensi lain untuk membendung makhluk asing yang mungkin akan menyerang bumi. Salah satu pejabat pemerintah, Amanda Waller (Viola Davis), mengajukan usulan pembentukan kekuatan yang berisikan para sampah masyarakat. Setelah ditunjukkan bukti keseriusannya, pemerintah akhirnya setuju setelah sempat menolak usulan itu. Jadilah satu persatu para penjahat itu dijemput di penjara super maksimum nya.

03 August 2016

Jason Bourne (2016)

You Know His Name

Dibuat tanpa pengharapan yang muluk-muluk, siapa sangka Bourne menjelma menjadi sajian spy yang memorable. Dengan tiga film berdasarkan novel aslinya karya Robert Ludlum, trilogy Bourne adalah yang terbaik, yang juga semakin melambungkan nama Matt Damon. Setelah Identity, Supremacy, dan Ultimatum, munculah Legacy yang sayangnya Damon enggan terlibat lagi di dalamnya. Sebenarnya Legacy juga adalah karya Ludlum. Namun tiadanya Damon yang digantikan Jeremy Renner membuat naskah aslinya harus dirombak.

Bourne (Matt Damon) tetap hidup sendiri dan menutup diri dari hingar bingar dunia. Dia bertarung demi uang untuk hidup. Masalah bermula saat Nicky Parsons (Julia Stiles) muncul. Dia meretas sistem keamanan CIA dan menemui Bourne. Perburuan dimulai. Direktur CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) berada di baris terdepan dalam komando bersama kepala cyber nya Heather Lee (Alicia Vikander).

12 June 2016

Eddie The Eagle (2016)

Win or Lose, Always Aim High

Suatu keberhasilan memang butuh pengorbanan. Pengorbanan bisa berarti membuang tenaga, waktu, dan uang. Namun pengorbanan tersebut terasa sia-sia tanpa ada tekad dan keberanian. Keberhasilan yang dicapai pun bukan merupakan sesuatu yang absolut, bisa berarti keberhasilan adalah berhasil secara pribadi, bisa pula berhasil secara umum dan luas. Sebagian besar hal itu mengilhami dan menjadi tema sebuah film olahraga. Suatu tema yang begitu-begitu saja dan terus terulang. Dan lucunya terus dilakukan. Eddie The Eagle pun termasuk di dalamnya.

Sejak kecil, Eddie Michael Edwards (Taron Egerton) sudah mengalami disabilitas. Dia harus memakai alat bantu untuk kakinya yang tidak normal berjalan. Namun saat remaja, kelainan itu sembuh. Eddie tak harus memakai alat bantu lagi untuk berjalan. Kenyataan itu makin membuatnya yakin bahwa ia akan mengikuti olimpiade, suatu tekad yang ia niati sejak kecil. Menyadari bahwa olimpiade musim panas adalah hal yang mustahil untuk ia ikuti, Eddie berpaling ke olimpiade musim dingin. Dan ia memilih lompat ski (ski jumping), suatu cabang olah raga yang terakhir kali diikuti oleh atlet Inggris pada 1929. Di situlah Eddi menemukan keberhasilannya.

08 May 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016)


Berangkat dari nothing to lose, Ada Apa Dengan Cinta (AADC) justru memikat dan menyihir jutaan orang, khususnya kalangan muda. Mereka berbondong-bondong memenuhi gedung bioskop. Siapa sangka film remaja ini menjadi fenomenal dan bahkan dianggap telah membangkitkan gairah film nasional. Sebagian besar yang berada di dalamnya, yang sebelumnya bukan siapa-siapa, melejit menjadi seseorang yang terperhatikan. Bukan saja oleh publik, tetapi oleh produser dan juga sutradara lain. Itu adalah sejarah 14 tahun yang lalu.

'Tapi aku pasti akan kembali, dalam satu purnama, untuk mempertanyakan cintanya'. Penggalan puisi itu selalu mengingatkan Cinta (Dian Satrowardoyo) bahwa ia pernah memiliki Rangga (Nicholas Saputra). Jadi, ketika hubungan mereka putus sembilan tahun lalu, Cinta memendamnya dalam-dalam di satu kotak memori di tingkat lemarinya paling atas. Kini semuanya berjalan normal. Cinta telah bertunangan. Dan sebelum ia melangkah lebih jauh, Cinta ingin menghabiskan waktunya bersama genk SMA nya, Karmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Prescillia), dan Maura (Titi Kamal). Mereka liburan ke Jogja. Sayang Alya (Ladya Cheryl) tak bisa ikut sebab suatu hal.

29 April 2016

Civil War: Captain America (2016)

Whose Side Are You On?

Welcome to the Marvel Cinematic Universe (MCU) Phase 3. Petualangan dunia fiksi ala Marvel bagian ke-3 ini dibuka oleh Captain America: Civil War. Selanjutnya, bakal ada setidaknya sembilan garapan Marvel lagi yang kembali menghadirkan figur dan judul lama, serta tentu saja amunisi baru dalam bentuk figur dan judul segar. Secara konsisten dan pasti, Marvel terus mengalami kemajuan dan semakin menancapkan kuku nya lebih kuat dan dalam lagi dalam persaingan sesama genre super hero. Sukses dengan MCU 1 dan 2, akankah MCU 3 juga akan mengekor dengan prestasi yang sama, ataukah publik bakal bosan dengan ide dan visual based on comics tersebut? Well, perang sipil ini akan menjadi kuncinya.

01 April 2016

Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)



Tiga tahun lalu, Man of Steel membuncahkan ekspektasi penikmat komik, khususnya DC, tinggi di atas awang-awang. Janji untuk membuat sekuel super hero ini sangat dinantikan. Siapa yang bisa menolak kehadiran sekuel ini jika judulnya saja membuat sebuah kejutan, Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS). Kehadiran Batman tentu saja adalah kejutannya. Bagaimana bisa dua jagoan paling terkenal dari DC ini tidak hanya disandingkan, tetapi juga ditarungkan dalam satu frame. Seharusnya BvS sudah bisa dinikmati sejak tahun lalu. Tetapi Warner Bros lebih memilih mengundurkan jadwal premiernya di tahun ini.

Masih membawa scene dari Man of Steel, BvS menyorot pertempuran Superman vs Zod dari kaca mata Bruce Wayne (Ben Affleck). Bruce merasa bahwa Superman (Henry Cavill) saat ini adalah penolong, tetapi bisa jadi suatu hari nanti Superman akan berubah menjadi alien yang memangsa bumi. Dari ego pribadi yang dibumbui hasutan dari Lex Luthor (Jesse Eisenberg), Bruce melalui Batman berniat membikin perhitungan dengan Superman.