09 July 2017

Spider-Man: Homecoming (2017)




Lima judul Spider-Man sudah dibuat Sony dalam rentang waktu 14 tahun. Dua aktor telah mengisi peran manusia laba-laba ciptaan Stan Lee dan Steve Ditko ini. Peruntungan dari kelima film itu sebenarnya bagus, tetapi pada akhirnya Sony mengizinkan karakter pengeruk uangnya itu 'dipinjam' oleh Marvel. Jadilah Spidey kembali ke rumahnya (homecoming).

Peter Parker (Tom Holland) sangat antusias dengan jati dirinya yang baru. Ia selalu ingin mendapat kesempatan yang selalu dimintanya dari seorang Tony Stark (Robert Downey Jr.). Tetapi Tony selalu menganggapnya anak bawang. Peter secara tak sengaja bertemu dengan pedagang senjata gelap. Penyelidikannya berujung pada pertemuannya dengan Adrian Toomes (Michael Keaton).

Spider-Man: Homecoming mengambil waktu dua bulan setelah peristiwa Berlin di Captain America: Civil War. Sebelum itu diceritakan juga bagaimana Toomes mengambil rongsokan kejadian New York dalam The Avengers delapan tahun lalu sebelum peristiwa Berlin. Mengapa scene itu harus ada? Karena ini film Marvel.

Scene di trailer ini nggak ada di film

Marvel Studios sedari awal sudah harus menyadarkan penonton bahwa pahlawannya ini sudah menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe (MCU). Iron Man juga menjadi bukti bagaimana Marvel telah mencengkram kuat narasi Spidey agar tak berdiri sendiri. Mungkin ini menjawab mengapa meski film ini reboot, tetapi tak menampilkan Peter yang tergigit laba-laba serta kematian Paman Ben.

Apakah itu buruk? Tidak. Karena Marvel punya gaya penceritaannya sendiri. Dan hasilnya memang Marvel banget. Ibarat makanan, Spider-Man kali ini terasa sangat renyah, crispy, dan nikmat serta siap saji. Senikmat sajian Marvel yang lain. Sajian nikmat biasanya selalu disukai baik anak-anak dan orang dewasa. Sajian screenplay Spier-Man: Homecoming dibuat keroyokan oleh enam penulisnya termasuk sang sutradara, Jon Watts.

Tak seperti yang disajikan Sony, tak ada adegan heroisme berlebih apalagi percintaan romantis di sini. Semuanya cenderung datar dan enteng, tapi itu bukan berarti jelek dan buruk karena semuanya juga disajikan secara menghibur. Ya, Spider-Man: Homecoming sangat menghibur dan menyenangkan. Kekonyolan Peter dengan banyolan dan one liner joke-nya cukup menghibur meski porsinya cukup berlebih. Aksi-aksi Spidey pun sangat bisa dinikmati.

The Moment

Credit point layak disematkan kepada Tom Holland. Tom berhasil menjelmakan Spidey menjadi benar-benar baik Peter Perker dan Spidey. Dia naif, nerd, canggung, kikuk, konyol, mbanyol, dan nggak ganteng. Usianya yang masih 21 tahun juga menjadi poin tersendiri bagi dia. Sebagai perbandingan, Tobey Maguire jadi Spidey saat berusia 25 tahun, dan Andrew Garfield mengenakan kostum Spidey pada usianya yang ke-27 tahun.

Jangan lupakan villain di sini. Meski terlihat tak ganas dan membahayakan, namun Vulture sangat mengintimidasi. Michael Keaton-lah yang membuat Adrian Toomes menjadi mengerikan dengan ucapan dan dialognya. Bila ada Mary Jane dan Gwen Stacy di edisi sebelumnya, maka di sini ada Liz (Laura Harrier). Liz menjadi love interest Peter yang sayangnya kita tak tahu bagaimana kelanjutannya. Last but not least, Bibi May (Marisa Tomei) memberikan kejutan tersendiri di sini. Tomei bisa jadi adalah bibi May yang paling seksi.

Spider-Man: Homecoming, sajian yang berbeda bila dibandingkan dengan lima Spidey produksi Sony. Marvel telah membuat karakter pujaan fans-nya ini sesuai dengan caranya sendiri, dan bahkan mendekati gaya komiknya. Spidet dibuat benar-benar pulang kampung (homecoming). Bukan yang terbaik dari film Spider-Man yang pernah dibuat, tetapi penampilan yang pas dari seorang Tom Holland.

Marisa Tomei is hot, isn't it?

3 comments:

  1. sebenernya males juga si nontonnya, soalnya lebih suka superhero yg keren dan gagah karena ditempa (dilatih) dibandingkan yang kaya gini, cuma digigit laba-laba jadi superhero :v bukannya nyidir tapi saya hanya bersuara :v Tapi saya tetep nonton filmnya loh, wkwk karena penasaran aja :v

    ReplyDelete