12 February 2013

Looper (2012)

Face your future. Fight your past.

Membunuh seseorang dari masa depan so that the future man doesn't exist again bukanlah tema baru. Tetapi modifikasi tema itu membuat looper menjadi sesuatu yang baru. Looper adalah pembunuh sewaan yang bertugas membunuh orang dari masa depan yang sudah ditentukan. Bukan membunuh secara acak.

Program membunuh itu sudah dijalankan Joe (Joseph Gordon-Levitt) selama bertahun-tahun. Untuk setiap tugasnya, ia memperoleh imbalan batangan perak yang bisa ditukar uang. Joe menjalankan pekerjaan itu tanpa cacat hingga ia tahu jika ia harus membunuh dirinya sendiri (close the loop) yang datang dari masa depan.

Namun the old Joe (Bruce Willis) lolos dan hendak mengubah masa depannya di tahun 2074 dengan memburu the rainmaker yang berniat menghabisi seluruh looper yang ada. The Rainmaker di tahun 2044 masihlah seorang anak kecil yang kelihatannya mudah untuk dibunuh. Benarkah demikian ?


Time traveler dan time machine memang asyik dijadikan tema film. Tapi jika penyajiannya asal-asalan, siapapun akan malas mengapresiasinya. Untunglah Rian Johnson tak melakukannya. Meski premisnya adalah masa depan, namun Rian tak menjadikan premis itu sebagai acuan.

Rian justru menjadikan Looper menjadi sebuah drama yang membuat masa depan dan aksi tembak-menembak menjadi selingannya. Faktor Sara (Emily Blunt) dan Cid (Pierce Gagnon) lah yang membuat Looper menjadi lebih humanis.

Mungkin ada yang bertanya-tanya saat melihat penampilan Levitt. Dia kelihatan berbeda dan bukan seperti dirinya secara fisik. Ternyata oh ternyata, Levit didandani sedemikian rupa agar menjadi semirip mungkin dengan Bruce Willis, looper nya di masa depan. Saya jadi heran, kenapa nggak Bruce aja yang didandani menjadi mirip Levit. He he he.


Secara umum, penampilan seluruh cast di dalam Looper berjalan baik sesuai fungsinya. Namun saya menggarisbawahi penampilan Gagnon. Bocah kecil itu sepertinya berakting jauh melampaui umurnya. Lihat saja bagaimana dia nyerocos dengan lancarnya seperti bukan anak kecil. Mimik wajahnya saat ia marah, menangis, kesal dan bertelekinesis juga menjadi poin tersendiri.

Berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri, juga menjadi tema yang hendak disampaikan Rian. Twist di akhir adegan menjadi salah satu petunjuknya. Twist itu sendiri mungkin mengejutkan dan banyak yang tak suka. Tetapi itulah jalan yang paling logis dan tidak mengada-ada. Hanya saja Rian mungkin kurang lembut mengeksekusinya.

Looper, science fiction about the future and the time machine yang cerdas. Tak hanya melulu menampilkan teknologi, Looper juga mampu membawa penontonnya lebih memahami arti hidup dan pengorbanan. Tidak WOW memang, tetapi patut diingat.