15 November 2017

Wage (2017)




Di balik kemerdekaan Indonesia, terdapat orang-orang hebat di belakangnya. Dengan cara masing-masing, mereka berupaya dengan gigih dan keras agar Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan. Orang hebat itu biasa kita sebut pahlawan. Ada yang menonjol, ada yang biasa, dan ada yang tak dikenal.

Terlahir di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Wage Soepratman kecil (Khoirul Ilyas Aryatmaja) sudah benci dengan Belanda. Padahal bapaknya, Joemeno Kartodikromo, adalah seorang tentara KNIL. Setelah kematian ibunya, Siti Senen (Windarti), Wage ikut kakaknya, Roekijem Supratidjah (Putri Ayudya) ke Makassar. Roekijem saat itu sudah menikah dengan seorang Belanda bernama Willem (Sastromihardjo) van Eldik (Wouter Frezzer).

Di Makassar, Wage yang telah mendapat nama tambahan Rudolf memperoleh pendidikannya. Di sana pula Wage memperoleh bakatnya dalam hal bermusik dari van Eldik. Wage (Rendra Bagus Pamungkas) mengisi harinya dengan menjadi pemusik bayaran dan bekerja di sebuah perusahaan dagang. Hati Wage yang berontak kemudian membawanya ke Batavia. Di pulau Jawa perjuangan Wage dimulai hingga ia berhasil menciptakan Indonesia Raya. 

Membuat biopic memang tak mudah. Terkadang ada banyak kontroversi di dalamnya. Meski begitu, biopic yang baik sebenarnya sederhana, berjalan pada tema lurusnya dan disiplin pada sisi teknisnya. Abaikan bumbu yang ada karena setiap persona mempunyai rasa yang berbeda. Dan Wage sudah berjalan pada rel itu.

Lightingnya ciamik soro

Di sini diceritakan bahwa Wage adalah seorang pahlawan pengarang lagu kebangsaan Indonesia. John de Rantau sudah membeberkan itu dengan caranya sendiri. John berjalan teratur pada script yang dibuat Fredy Aryanto dan Gunawan BS.

Yang paling menonjol dari Wage adalah lighting-nya. Gelap, cerah, temaram, putih, hitam, dan abu-abu ditampilkan secara cemerlang. Tak hanya dari satu sudut, tetapi dari berbagai angle. Visual benar-benar dimanjakan dengan pencahayaan yang menawan. Sinematografi yang lain juga tak mengecewakan. Wide angle ataupun sorotan dari sudut sempit sudah sesuai dengan porsinya masing-masing pada tiap scene. Untuk visualisasi, Wage tak mengecewakan.

Itu masih ditambah dengan setting background tahun '20-'30-an yang cukup baik. Properti yang ditampilkan semisal mobil, mebel, rumah, maupun barang printilan lain terasa old enough. Busana yang dikenakan aktor dan aktrisnya pun sesuai, meski ada catatan sejumlah busana terlihat masih sangat baru.

Dari sisi cerita, Wage sebenarnya tidak terlalu rumit. Namun bagi yang belum mengerti sejarah khusus tentang Wage, mungkin ada banyak pertanyaan yang menggelantung di benak. Itu mungkin karena John menganggap penonton sudah tahu banyak tentang Wage. Padahal mengapa Wage mendapatkan nama Rudolf dan siapa van Eldik adalah dua dari sekian pertanyaan yang tak dijelaskan di dalam film. Ada tuturan cerita John yang melompatnya terlalu jauh.

Violin in the sun

Dari departemen akting, Rendra adalah juaranya. Ia dengan sempurna baik secara fisik maupun akting telah menghidupkan sosok WR Soepratman. Mimik muka dan intonasi kalimatnya mampu menggugah semangat kebangsaan. Penampilan aktor dan aktris lain juga tak buruk. Semuanya bermain apik pada masing-masing karakter yang mereka mainkan. Prisia Nasution (Salama) memang ada di sini. Tetapi kehadiran Prisia sama sekali tak berpengaruh pada cerita Wage. Prisia adalah gula yang tak cukup manis untuk sebuah sajian. 

Bila menikmati Wage, nikmati pula dialog-dialognya yang bernas, cerdas, dan berisi, yang mampu menggugah rasa kebangsaan. Dengan dialog itu, kita jadi tahu seperti apa perjuangan para pahlawan kita.

Wage, biopic yang meski tak sempurna, namun juga tak mengecewakan. Wage adalah sosok pahlawan sunyi dan sendiri. Dia tak menonjol sehingga tak banyak literatur yang membahasnya. Satu keinginan yang tak terpenuhi di Wage, lantunan Indonesia Raya hanya dalam dawai biola saat Kongres Pemuda II. John justru merusaknya dengan lirik yang mengiringinya. 

No comments:

Post a Comment