30 August 2013

Pee Mak Phra Khanong (2013)


Sebenarnya saya tak akrab dengan film Thailand khususnya yang bergenre horor. Bukannya tidak bagus, tetapi kekerapan menonton yang berfrekuensi jarang, membuat referensi mengenai film Thailand tidak banyak. Mungkin hanya Ong Bak jilid pertama saja yang saya tonton utuh, itupun di TV yang diselang-seling iklan. Secara umum, horor Thailand mendapat kritik yang bagus. Selain seram, dari sisi penceritaannya pun kuat.

Mak (Mario Maurer) harus meninggalkan istrinya, Nak (Davika Hoorne), yang sedang mengandung demi tugas negara, berperang. Di medan perang, Mak bertemu keempat temannya, Ter (Nattapong Chartpong), Puak (Pongsatorn Jongwilak), Shin (Wiwat Kongrasri), dan Aey (Kantapat Permpoonpatcharasuk). Mak mendapat luka cukup serius saat berperang. Tapi dia tak ingin mati demi bisa melihat isri yang sudah terlalu lama dirindukannya. Bersama keempat temannya, Mak pulang ke desanya, Phra Khanong.

27 August 2013

Hotel Rwanda (2004)

When the world closed its eyes, he opened his arms
Peristiwa pembantaian massal (genosida) Rwanda tahun 1994 menjadi kasus yang tak bisa dilupakan dunia internasional. Dalam kurun 100 hari, 800.000 - 1.000.000 jiwa suku Tutsi dan Hutu moderat melayang di tangan suku Hutu. Dalam peristiwa gelap itu masih ada setitik noktah cahaya diantara derasnya aliran darah yang mengalir dari setiap jiwa yang kehilangan sukma. Titik noktah cahaya itu dinyalakan oleh seorang manajer hotel yang dengan kecakapannya menyelamatkan ribuan nyawa suku Tutsi dari pembantaian.

Paul Rusesabagina (Don Cheadle) adalah seorang asisten manajer Hotel Des Mille Colline. Paul sangat cakap dalam menjalankan tugasnya dimana dengan pengetahuannya tentang kebiasaan penduduk lokal bisa tepat bertindak tentang apa yang harus dilakukan. Paul hidup bahagia bersama istrinya, Tatiana Rusesabagina (Sophie Okonedo), bersama ketiga anaknya. Saat presiden Rwanda Juvenal Habyariwana terbunuh, situasi Rwanda berubah 180 derajat.

20 August 2013

Liebster Award & Sunshine Award

Wismacinema kapan hari direkomendasikan Luthfi Prasetya Putra untuk mengikuti Liebster Award dan Sunshine Award. Bukan sebuah kontes atau lomba blog sih. Tetapi lebih pada sebuah blog game atau bisa disebut juga blogathlon atau estafet blog untuk seru-seru an aja. Dengan rekomendasi ini, seorang blogger sudah memberikan award yang secara kreatif dan positif menginspirasi bagi blogger lain.

Senang aja dapat rekomendasi karena baru kali ini saya diajak yang beginian (saking amatir nya). Sorry, karena 'kesibukan', baru kali ini saya bisa menggarap 'gawe' keren seperti ini. 

18 August 2013

The Act of Killing (2012)

A story of killers who win, and the society they build
Pada masa orde baru, komunis dengan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi momok yang harus ditakuti. Pemerintahan Soeharto terus memaksa rakyatnya agar phobia terhadap hal-hal berbau komunis. Usaha itu awalnya dilakukan dengan membentuk koramil, kodim, korem hingga RT dan RW, dengan harapan mempersempit ruang gerak simpatisannya dan segera bisa terdeteksi jika ada yang mengarah ke situ.

Setelah dirasa sudah berjalan, mbah Harto mulai memberangus buku-buku berbau komunis dan mulai melakukan propaganda jika komunis itu racun. Salah satu caranya adalah memaksa rakyatnya menonton film propagandanya yakni 'Pengkhianatan G30S/PKI'. Film yang dibesut Arifin C Noer itu merupakan tontonan wajib setiap tanggal 30 September. Meski sudah diputar di satu-satunya televisi saat itu, TVRI, namun Smiling General masih memaksa para pelajar menontonnya di bioskop.

16 August 2013

Mengapa wismacinema

Sorry, kurang sexy, he he he
Ada yang bertanya mengapa blog film ini dilabeli wismacinema. Bukannya tanpa alasan, wismacinema merupakan pikiran sesaat yang muncul begitu saja saat saya berniat membuat sebuah blog film. Jika membuat nama sesuatu, saya selalu mengalokasikan tempat atau kenangan yang cukup indah atau pedih yang pernah saya rasakan.

Dulu sewaktu kuliah di Jogja, saya tinggal di sebuah rumah kos yang bernama Wisma Nasib di Desa Cebongan, Kadipiro, Bantul. Kata wisma langsung muncul saat blog ini hendak dibuat. Cebongan sudah saya buat sebagai nama blog saya, cebongan.blogdetik.com. Kadipiro kayaknya gak bakal saya pakai karena nama itu sudah terkenal dengan soto nya :). Lagipula saya memilih kata wisma karena Surabaya identik dengan kata wisma.

Lho, apa maksudnya. Salah satu hal yang membuat kota Surabaya terkenal adalah lokalisasi Dolly. Nah, saya nggak perlu menjelaskan apa hubungan wisma dengan lokalisasi. Kalau kata cinema, tentu saja itu sangat berhubungan dengan film. Tetapi saya menggunakan 'cinema' dan bukan 'sinema'. Kenapa, wisma adalah kata dalam Bahasa Indonesia dan cinema adalah kata dalam Bahasa Inggris.

Dan film yang saya tonton beragam, bukan hanya film Indonesia saja melainkan juga barat. Nah, dua kata itu sepertinya sudah mewakili. Apakah saya akan tergoda untuk mengubah nama wismacinema? Mungkin saja. Setelah melihat nama blog-blog film yang lebih profesional dari punya saya, saya pun tergoda ingin mengubah wismacinema menjadi nama yang lebih simpel dan lebih keren. Namun akal sehat saya tetaplah masih sehat. Bukankah hal yang terbersit pertama kali adalah murni dan belum terpapar polusi.

So, silahkan terus menikmati wismacinema.blogspot.com yang masih tetap amatir ini.

15 August 2013

The Call (2013)

There are 188 million 911 calls a year. This one made it personal

Di Amerika sana, 911 kerap dipencet untuk meminta bantuan. Sayangnya, kadangkala 911 digunakan orang sebagai tempat untuk berkeluh kesah. Karena itulah, seringan apapun kesulitan yang dihadapi, 911 terkadang dihubungi untuk dimintai bantuan. Itu pula yang dialami sang operator 911, Jordan Turner (Halle Berry).

Meski begitu, Jordan tetap sabar dengan risiko tugasnya. Suatu hari, perempuan berambut keriting itu mendapat telepon dari seorang gadis. Gadis yang mengaku bernama Leah Templeton (Evie Thompson) itu mengatakan jika ada orang asing yang memaksa masuk rumahnya. Sepertinya tamu tak diundang itu ingin menculiknya.

14 August 2013

The Wolverine (2013)

When enemies rise, when immortality ends, the ultimate battle begins


Sebagai bagian dari X-Men, Wolverine merupakan spin-off yang paling terkenal dan juga berhasil. Terkenal karena mempunyai penggemar fanatik (including me) dan berhasil karena hanya Wolverine lah satu-satunya spin-off X-Men yang dibuatkan film tersendiri. Pertama X-Men Origins : Wolverine dan yang kedua yang paling baru, The Wolverine. Bila X-Men Origins : Wolverine mendapat kritik tajam, what about the sequel ?

Setelah kematian Jean Grey (Famke Janssen), Logan (Hugh Jackman) hidup dalam kegalauan yang teramat berat. Entah apa yang ia cari, jati diri ataukah penebusan dosa karena merasa telah menewaskan Jean Grey. Dalam kebimbangannya, Logan hidup menyendiri di tengah hutan berkawan alam. Suatu hari, Yukio (Rila Fukushima), seorang berkebangsaan Jepang memaksanya ikut dengannya. Yukio beralasan bahwa hal itu adalah perintah majikannya, Yashida (Hal Yamanouchi).

13 August 2013

The Conjuring (2013)



Masih segar di ingatan betapa eksotisnya (baca seram) insidous di tahun 2010 lalu. Bukan pada makhluk seram di dalamnya, namun lebih kepada sisi psikologis saya yang dicampur aduk di dalam balutan pekatnya kegelapan dunia arwah. Saking seramnya, Insidous bahkan dibuat sebagai perbandingan untuk film horor lain. Jika sebuah film horor terbaru keluar di bioskop, maka yang terucap pertama kali adalah "sereman mana ama Insidous?". Begitulah James Wan secara luar biasa menjadikan Insidious sebagai sebuah standar perbandingan tak resmi bagi film horor. Namun sutradara kelahiran Malaysia itu tak berhenti di Insidious. Dia mencoba membesut genre horor lagi melalui The Conjuring. Sereman mana The Conjuring ama Insidous?

Keluarga Perron pindah ke sebuah rumah tua dengan halaman luas di Harrisville, Rhode Island. Roger (Ron Livingston) dan Carolyn (Lili Taylor) Perron optimis rumah itu akan membawa kebahagiaan. Kelima anak perempuan mereka juga berpikir demikian. Andrea (Shanley Caswell), Nancy (Hayley McFarland), Christine (Joey King), Cindy (Mackenzie Foy), dan April (Kyla Deaver) sangat menikmati tinggal di rumah tersebut. Namun harapan mereka sirna saat berbagai gangguan yang tak jelas asalnya mendera, terutama di malam hari.